03/01/2013 - 04/01/2013 | SHARING BLOGGING AND EARNING

Jumat, 22 Maret 2013

Wakil Ketua PN Bandung, Setyabudi Tejocahyono Tertangkap Tangan Menerima Suap

Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung, Setyabudi Tejocahyono (tengah) tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, setelah tertangkap tangan menerima suap, Jumat (22/3/2013). Ia diduga menerima suap berkaitan dengan kepengurusan perkara korupsi dana bantuan sosial Pemerintah Kota Bandung. Setyabudi tertangkap tangan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi bersama seorang pihak swasta bernama Asep, Jumat (22/3/2013).

Selama menjadi Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Setyabudi Tejocahyono pernah menangani perkara tindak pidana korupsi (tipikor). Seperti diberitakan, Setyabudi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga menerima suap dari perkara yang ditanganinya, Jumat (22/3/2013).
Hakim Setyabudi Tejocahyono baru 11 bulan menjabat sebagai Wakil Kepala Pengadilan Negeri (PN) Bandung dan hari ini, Jumat (22/3/2013), dia baru menerima SK pindah tugas ke Padang, Sumatera Barat.

Hal itu dikatakan Kepala Humas PN Bandung, Djoko Indrianto, kepada wartawan di PN Bandung, Jalan RE Martanidata, Jumat sore. Djoko mengungkapkan, Setyabudi ditangkap sekitar pukul 14.00 WIB. Wakil Ketua PN Bandung itu terbukti menerima suap dari seseorang.

"Apakah itu gratisikasi atau suap, yang jelas yang bersangkutan tertangkap tangan, saya sendiri juga belum tahu kasus yang mana yang dipermasalahkan. Saya juga belum tahu bagaimana kronologis permasalahannya. Silakan untuk lengkapnya bisa ditanyakan ke pihak KPK," kata Djoko.

Disebutkan, Setyabudi baru menjabat di PN Bandung selama 11 bulan terakhir. Dia segera dipindahtugaskan ke Padang dan SK kepindahannya itu baru diterimanya hari ini.
Sementara itu, Irwan, seorang tukang parkir, mengatakan, menjelang penangkapan Setyabudi, dia melihat tiga mobil diparkir di depan PN Bandung. Satu Nissan X-Trail dan dua Toyota Innova, kata dia.

"Ada sekitar tujuh sampai delapan orang turun dari mobil tersebut. Kemudian, sekitar lima menit kemudian, ada orang dari dalam kantor digiring oleh orang-orang yang membawa mobil tersebut. Orang itu kemudian di masukan ke dalam mobil," jelasnya.
Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkapkan, tangkap tangan terjadi di PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Bandung, Jawa Barat, tepatnya di ruangan kerja sang hakim.

"Jumlah uangnya itu masih dihitung, belum bisa disampaikan persis, nanti akan disampaikan secara resmi bagaimana prosesnya," kata Johan.

Diduga, transaksi serah terima uang ini berkaitan dengan kepengurusan perkara di PN Bandung. Melalui pesan singkat, Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas mengungkapkan kalau transaksi ini diduga berkaitan dengan penanganan perkara bantuan dana sosial Pemerintah Kota Bandung.

Adapun Setyabudi merupakan ketua majelis hakim yang memutuskan perkara korupsi bansos Pemkot Bandung pada pertengahan Desember tahun lalu. Tujuh terdakwa dalam perkara korupsi bansos tersebut hanya dijatuhi hukuman penjara selama satu tahun ditambah denda masing-masing Rp 50 juta subsider satu bulan penjara serta diharuskan membayar uang pengganti Rp 9,4 miliar yang ditanggung bersama, sementara kerugian negara mencapai Rp 66 miliar.

Ketujuh terdakwa itu adalah Rochman, Firman Himawan, Luthfan Barkah, Yanos Septadi, Uus Ruslan, Havid Kurnia, dan Ahmad Mulyana. Vonis majelis hakim tersebut jauh lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang meminta keenam terdakwa dengan hukuman 3 tahun penjara sementara Rochman 4 tahun penjara. Sementara denda yang dituntut pada ketujuh terdakwa ialah Rp 100 juta.

Terkait penangkapan Setyabudi dan Asep ini, Johan mengatakan KPK menduga masih ada pihak-pihak lain yang diduga terlibat.

"Ini masih diproses di Bandung, tim ada di Bandung, nanti akan kami jelaskan begitu informasi yang disampaikan sudah lengkap atau sudah selesai prosesnya," kata Johan.
"Ikut ditangkap seorang dari swasta berinisial A," kata Juru Bicara KPK Johan Budi.
Diduga, keduanya terlibat tindak pidana korupsi terkait kepengurusan perkara di PN Bandung. Kemungkinan besar, masih ada pihak lain yang diduga terlibat dan masih dalam pengejaran KPK.
Johan mengatakan, kedua orang itu ditangkap di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, sekitar pukul 14.15 WIB. Bersamaan dengan penangkapan itu, disita sejumlah barang bukti berupa uang yang belum dihitung jumlahnya.
"Ditemukan barang bukti berupa uang, jumlahnya masih dihitung. Belum bisa disampaikan persis," katanya.

Kini, kedua orang yang tertangkap tangan tengah digelandang dari Bandung ke Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, untuk diperiksa lebih lanjut.
 
Humas Pengadilan Negeri (PN) Bandung Djoko Indiarto di Bandung, mengatakan "Untuk kasus terakhir yang ditanganinya saya tidak tahu, namun perkara terakhir yang ditangani banyak sekali diantaranya ada perkara umum, khusus, perdata, tipikor juga ada”.
Djoko mengatakan, usai ditangkap oleh KPK, maka sesuai prosedur, Setyabudi akan dibawa langsung ke Badan Pengawasan Mahkamah Agung. "Tadi itu dari KPK ada, lalu dari Pengadilan Tinggi dan dari MA juga ada. Karena begitu ada hakim yang tertangkap akan langsung ke Badan Pengawasan MA," ujar Djoko.

Dikatakannya, karena Setyabudi ditangkap oleh KPK maka secara otomatis semua perkara hukum yang ditangani oleh yang bersangkutan akan diambil alih oleh ketua. "Dan ketua akan diberikan tanggung jawab mengadili kepada salah satu hakim yang ada," ujar dia.

Selama berkiprah di Pengadilan Negeri Bandung, Setyabudi pernah memberikan vonis bebas terhadap Inggrid Gunawan, terdakwa perkara penembakan bos sekuriti Red Guard, Husein Komara pada 5 Februari 2012.

Selain itu, dalam perkara korupsi dana bansos Pemkot Bandung, Setyabudi memberikan vonis satu tahun terhadap tujuh terdakwa perkara bansos.

Vonis ini jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan tuntutan dari jaksa penuntut umum yang menuntut ketujuh terdakwa dengan hukuman penjara tiga dan empat tahun penjara.

Sumber: Antara
Disadur dari KOMPAS.COM