2013 | SHARING BLOGGING AND EARNING

Sabtu, 23 November 2013

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN PENYAKIT HEPATITIS C

Pencegahan Hepatitis C
Kita dapat mencegah penularan Hepatitis C. Cara penyebaran yang paling efesien Hepatitis C adalah melalui suntikan yang terkontaminasi oleh darah, misalnya di saat memakai obat suntik. Jarum suntik dan alat suntik sebelum digunakan harus steril dengan demikian menghentikan penyebaran penyakit Hepatitis C di antara pengguna obat suntik.
Meskipun resiko penularan melalui hubungan seksual kecil, anda seharusnya menjalankan kehidupan seks yang aman. Penderita Hepatitis C yang memiliki lebih dari satu pasangan atau berhubungan dengan orang banyak harus memproteksi diri (misalnya dengan kondom) untuk mencegah penyebaran Hepatitis C.
Jangan pernah berbagi alat seperti jarum, alat cukur, sikat gigi, dan gunting kuku, dimana dapat menjadi tempat potensial penyebaran virus Hepatitis C. Bila melakukan manicure, tato dan tindik tubuh pastikan alat yang dipakai steril dan tempat usahanya resmi.
Orang yang terpapar darah dalam pekerjaannya, seperti pekerja kesehatan, teknisi laboratorium, dokter gigi, dokter bedah, perawat, pekerja ruang emergensi, polisi, pemadam kebakaran, paramedis, tentara atau siapapun yang hidup dengan orang yang terinfeksi, seharusnya sangat berhati-hati agar tidak terpapar darah yang terkontaminasi.
Juga termasuk menggunakan peralatan tajam dan jarum dengan benar, mencuci tangan secara teratur dan menggunakan sarung tangan dalam pekerjaannya. Jika anda pernah mengalami luka karena jarum suntik, anda harus melakukan tes ELISA atau RNA HCV setelah 4-6 bulan terjadinya luka untuk memastikan tidak terinfeksi penyakit Hepatitis C.
Pernah sembuh dari salah satu penyakit Hepatitis tidak mencegah penularan penyakit Hepatitis lainnya. Orang yang menderita penyakit Hepatitis C dan juga menderita penyakit Hepatitis A memilki resiko tinggi terkena penyakit hepatits fulminant, suatu penyakit hati yang mematikan dan perkembangannya sangat cepat.
Dengan demikian, ahli kesehatan sangat merekomendasikan penderita penyakit Hepatitis C juga melakukan vaksinasi Hepatitis A dan Hepatitis B.

Pengobatan Hepatitis C
Apakah Hepatitis dapat diobati?
Dapat, Hepatitis C kronis dapat diobati dengan Pegylated Interferon dan Ribavirin.
Pengobatan Hepatitis C sedini mungkin sangatlah penting. Meskipun tubuh anda telah melakukan perlawanan terhadap infeksi, tetapi hanya 15% yang berhasil, pengobatan tetap diperlukan untuk mencegah Hepatitis C kronis dan membantu mengurangi kemungkinan hati menjadi rusak.
Kadangkala, pengobatan Hepatitis C memerlukan waktu yang lama, dan tidak dapat membantu. Tetapi karena penyakit ini dapat menjadi parah sepanjang waktu, sangatlah penting untuk mencari pengobatan yang tepat dari dokter anda.
Diagnosa dan pengobatan awal sangatlah mendesak dan penting. Persentase yang signifikan dari orang yang melakukannya dapat sembuh dari Hepatitis C dan menunjukan perbaikan hatinya.
Tujuan pengobatan dari Hepatitis C adalah menghilangkan virus dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang memburuk dan stadium akhir penyakit hati.
Kebanyakan bentuk interferon alfa hanya dapat bertahan satu hari tetapi dapat dimodifikasi melalui proses pegilasi untuk membuatnya bertahan lebih lama. Meskipun interferon alfa dapat digunakan sebagai obat Hepatitis C tunggal termasuk pegylated interferon, penelitian menunjukkan lebih efektif bila dikombinasi dengan anti virus ribavirin.
3 senyawa digunakan dalam pengobatan Hepatitis C adalah:
Interferon alfa
Adalah suatu protein yang dibuat secara alami oleh tubuh manusia untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh/imunitas dan mengatur fungsi sel lainnya. Obat yang direkomendasikan untuk penyakit Hepatitis C kronis adalah dari inteferon alfa bisa dalam bentuk alami ataupun sintetisnya.

Pegylated interferon alfa
Dibuat dengan menggabungkan molekul yang larut air yang disebut "polyethylene glycol (PEG)" dengan molekul interferon alfa. Modifikasi interferon alfa ini lebih lama ada dalam tubuh, dan penelitian menunjukkan lebih efektif dalam membuat respon bertahan terhadap virus dari pasien Hepatitis C kronis dibandingkan interferon alfa biasa.

 Ribavirin
Adalah obat anti virus yang digunakan bersama interferon alfa untuk pengobatan Hepatitis C kronis. Ribavirin merupakan obat yang sering dikombinasikan dengan suntikan interferon alfa untuk membantu menghentikan perkembangbiakan virus hepatitis C dan meningkatkan kerja interferon alfa. Ribavirin tidak bisa digunakan secara tersendiri untuk hepatitis C.

Pengobatan ini telah diterima berdasarkan kemampuannya dalam menghasilkan respon melawan virus pada penderita penyakit Hepatitis C kronis. Penderita dikatakan memiliki respon melawan virus jika jumlah virus Hepatitis C begitu rendah sehingga tidak terdeteksi pada tes standar RNA virus Hepatitis C dan jika level tersebut tetap tidak terdeteksi selama lebih dari 6 bulan setelah pengobatan selesai.

Obat Hepatitis C
Saat ini obat Hepatitis C standar adalah kombinasi Interferon dengan Ribavirin. Kombinasi obat Hepatitis C ini akan memberikan hasil berupa sustained virologic response (respon virus menetap) yang tinggi. Response ini sering disingkat dengan SVR.
Obat Hepatitis C Pegylated interferon alfa dibuat dengan menggabungkan suatu molekul besar yang larut air yang disebut “polyethylene glycol” (PEG) dengan molekul interferon alfa. Penggabungan dengan PEG memperbesar ukuran interferon alfa sehingga dapat bertahan dalam tubuh lebih lama. Hal itu juga dapat memproteksi molekul interferon terpecah oleh enzim tubuh.
Keuntungan lainnya adalah waktu di dalam tubuh obat Hepatitis C ini lebih lama (waktu paruh) sehingga obat Hepatitis C tidak perlu sering-sering dikonsumsi. Interferon alfa standar biasa disuntikkan tiga kali dalam seminggu tetapi pegylated interferon alfa cukup satu kali dalam seminggu.
Selain itu penelitian menunjukkan obat Hepatitis C pegylated interferon alfa lebih efektif dalam memproduksi suatu respon melawan virus pada penderita Hepatitis C kronis dibandingkan interferon alfa yang tidak mengalami pegylasi.
Sekarang ini ada dua macam pegylated interferon alfa yang tersedia: peginterferon alfa-2a dan peginterferon alfa-2b. meskipun kedua senyawa ini efektif dalam pengobatan Hepatitis C kronis, ada perbedaan dalam ukurannya, tipe pegylasi, waktu paruh, rute penbersihan dari tubuh dan dosis dari kedua pegylated interferon.
Karena metode pegylasi dan tipe molekul PEG yang digunakan dalam proses dapat mempengaruhi kerja obat dan pembersihannya dalam tubuh.
Perbedaan besar antar dua pegylated interferon adalah dosisnya. Dosis dari pegylated interferon alfa-2a adalah sama untuk semua pasien, tidak mempertimbangkan berat dan ukuran pasien.
Sedangkan dosis pegylated interferon alfa-2b disesuaikan dengan berat tubuh pasien secara individu.
Obat Hepatitis C ini diberikan sesuai dengan berat badan pasien dengan dosis 1.5 µg/kg berat badan. Obat Hepatitis C ini sekarang juga tersedia dalam bentuk pena (Peg Intron Redipen). Bentuk pena dari obat Hepatitis C ini akan memberikan kemudahan pada pasien dalam penyuntikan. Kemudahan ini akan meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan Hepatitis C. Kepatuhan dalam pengobatan Hepatitis C merupakan faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan terapi dari penyakit Hepatitis C.
Dosis dan Sediaan Obat Hepatitis C
·         Pegylated interferon alfa-2a memiliki dosis dan sediaan sebagai berikut:
Terapi tunggal 1 x seminggu 180mcg dikombinasikan dengan Ribavirin secara oral
Terapi tunggal 1 x seminggu 180mcg dikombinasikan dengan Ribavirin secara oral

·         Ribavirin Tablet 
Copegus 200mg
42       TABLET(S)                 $279.50  USD
84       TABLET(S)                 $559.00  USD
126     TABLET(S)                 $838.50  USD
3 x 2 tablet / hari dikombinasikan dengan Pegylated interferon alfa-2a secara suntik.

Dalam penelitian klinis, kombinasi terapi pegylated interferon alfa -2a dengan ribavirin menghasilkan lebih banyak pasien yang mencapai respon virologi menetap bila dibandingkan dengan terapi tunggal menggunakan pegylated interferon alfa-2a saja.
Bila interferon alfa yang lama (konvensional) biasanya disuntikkan 3 kali seminggu, maka pegylated interferon alfa-2a hanya disuntikkan satu kali seminggu. Sementara ribavirin merupakan obat oral yang mewajibkan Anda meminumnya beberapa tablet/kapsul setiap hari.
Jika dokter anda memilih pengobatan dengan Interferon alfa, pastikan anda bertanya beberapa pertanyaan sebagai berikut :
  • Resiko dan keuntungan apa dari pegylated interferon dibandingkan dengan interferon biasa?
  • Informasi penting apa yang perlu saya tahu sebelum melakukan suatu pengobatan?
Mendapatkan segala informasi yang anda butuhkan tentang pengobatan Hepatitis C dapat membantu anda mengetahui bagaimana obat Hepatitis C itu bekerja dan apa efek samping dan hasil dari pengobatan itu.

Pengobatan Hepatitis C dengan interferon alfa tidak tepat untuk semua pasien penderita Hepatitis C kronis. Pengobatan Hepatitis C ini harus memperhatikan efek sampingnya yang serius pada wanita hamil, riwayat atau adanya kondisi kejiwaan berat, riwayat penyakit jantung, gagal ginjal berat. Penderita harus mendiskusikan keuntungan dan efek samping pengobatan dengan dokternya.


Baca juga:
Daftar Pustaka:
http://www.pegintron.com


 

Jumat, 22 Maret 2013

Wakil Ketua PN Bandung, Setyabudi Tejocahyono Tertangkap Tangan Menerima Suap

Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung, Setyabudi Tejocahyono (tengah) tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, setelah tertangkap tangan menerima suap, Jumat (22/3/2013). Ia diduga menerima suap berkaitan dengan kepengurusan perkara korupsi dana bantuan sosial Pemerintah Kota Bandung. Setyabudi tertangkap tangan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi bersama seorang pihak swasta bernama Asep, Jumat (22/3/2013).

Selama menjadi Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Setyabudi Tejocahyono pernah menangani perkara tindak pidana korupsi (tipikor). Seperti diberitakan, Setyabudi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga menerima suap dari perkara yang ditanganinya, Jumat (22/3/2013).
Hakim Setyabudi Tejocahyono baru 11 bulan menjabat sebagai Wakil Kepala Pengadilan Negeri (PN) Bandung dan hari ini, Jumat (22/3/2013), dia baru menerima SK pindah tugas ke Padang, Sumatera Barat.

Hal itu dikatakan Kepala Humas PN Bandung, Djoko Indrianto, kepada wartawan di PN Bandung, Jalan RE Martanidata, Jumat sore. Djoko mengungkapkan, Setyabudi ditangkap sekitar pukul 14.00 WIB. Wakil Ketua PN Bandung itu terbukti menerima suap dari seseorang.

"Apakah itu gratisikasi atau suap, yang jelas yang bersangkutan tertangkap tangan, saya sendiri juga belum tahu kasus yang mana yang dipermasalahkan. Saya juga belum tahu bagaimana kronologis permasalahannya. Silakan untuk lengkapnya bisa ditanyakan ke pihak KPK," kata Djoko.

Disebutkan, Setyabudi baru menjabat di PN Bandung selama 11 bulan terakhir. Dia segera dipindahtugaskan ke Padang dan SK kepindahannya itu baru diterimanya hari ini.
Sementara itu, Irwan, seorang tukang parkir, mengatakan, menjelang penangkapan Setyabudi, dia melihat tiga mobil diparkir di depan PN Bandung. Satu Nissan X-Trail dan dua Toyota Innova, kata dia.

"Ada sekitar tujuh sampai delapan orang turun dari mobil tersebut. Kemudian, sekitar lima menit kemudian, ada orang dari dalam kantor digiring oleh orang-orang yang membawa mobil tersebut. Orang itu kemudian di masukan ke dalam mobil," jelasnya.
Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkapkan, tangkap tangan terjadi di PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Bandung, Jawa Barat, tepatnya di ruangan kerja sang hakim.

"Jumlah uangnya itu masih dihitung, belum bisa disampaikan persis, nanti akan disampaikan secara resmi bagaimana prosesnya," kata Johan.

Diduga, transaksi serah terima uang ini berkaitan dengan kepengurusan perkara di PN Bandung. Melalui pesan singkat, Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas mengungkapkan kalau transaksi ini diduga berkaitan dengan penanganan perkara bantuan dana sosial Pemerintah Kota Bandung.

Adapun Setyabudi merupakan ketua majelis hakim yang memutuskan perkara korupsi bansos Pemkot Bandung pada pertengahan Desember tahun lalu. Tujuh terdakwa dalam perkara korupsi bansos tersebut hanya dijatuhi hukuman penjara selama satu tahun ditambah denda masing-masing Rp 50 juta subsider satu bulan penjara serta diharuskan membayar uang pengganti Rp 9,4 miliar yang ditanggung bersama, sementara kerugian negara mencapai Rp 66 miliar.

Ketujuh terdakwa itu adalah Rochman, Firman Himawan, Luthfan Barkah, Yanos Septadi, Uus Ruslan, Havid Kurnia, dan Ahmad Mulyana. Vonis majelis hakim tersebut jauh lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang meminta keenam terdakwa dengan hukuman 3 tahun penjara sementara Rochman 4 tahun penjara. Sementara denda yang dituntut pada ketujuh terdakwa ialah Rp 100 juta.

Terkait penangkapan Setyabudi dan Asep ini, Johan mengatakan KPK menduga masih ada pihak-pihak lain yang diduga terlibat.

"Ini masih diproses di Bandung, tim ada di Bandung, nanti akan kami jelaskan begitu informasi yang disampaikan sudah lengkap atau sudah selesai prosesnya," kata Johan.
"Ikut ditangkap seorang dari swasta berinisial A," kata Juru Bicara KPK Johan Budi.
Diduga, keduanya terlibat tindak pidana korupsi terkait kepengurusan perkara di PN Bandung. Kemungkinan besar, masih ada pihak lain yang diduga terlibat dan masih dalam pengejaran KPK.
Johan mengatakan, kedua orang itu ditangkap di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, sekitar pukul 14.15 WIB. Bersamaan dengan penangkapan itu, disita sejumlah barang bukti berupa uang yang belum dihitung jumlahnya.
"Ditemukan barang bukti berupa uang, jumlahnya masih dihitung. Belum bisa disampaikan persis," katanya.

Kini, kedua orang yang tertangkap tangan tengah digelandang dari Bandung ke Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, untuk diperiksa lebih lanjut.
 
Humas Pengadilan Negeri (PN) Bandung Djoko Indiarto di Bandung, mengatakan "Untuk kasus terakhir yang ditanganinya saya tidak tahu, namun perkara terakhir yang ditangani banyak sekali diantaranya ada perkara umum, khusus, perdata, tipikor juga ada”.
Djoko mengatakan, usai ditangkap oleh KPK, maka sesuai prosedur, Setyabudi akan dibawa langsung ke Badan Pengawasan Mahkamah Agung. "Tadi itu dari KPK ada, lalu dari Pengadilan Tinggi dan dari MA juga ada. Karena begitu ada hakim yang tertangkap akan langsung ke Badan Pengawasan MA," ujar Djoko.

Dikatakannya, karena Setyabudi ditangkap oleh KPK maka secara otomatis semua perkara hukum yang ditangani oleh yang bersangkutan akan diambil alih oleh ketua. "Dan ketua akan diberikan tanggung jawab mengadili kepada salah satu hakim yang ada," ujar dia.

Selama berkiprah di Pengadilan Negeri Bandung, Setyabudi pernah memberikan vonis bebas terhadap Inggrid Gunawan, terdakwa perkara penembakan bos sekuriti Red Guard, Husein Komara pada 5 Februari 2012.

Selain itu, dalam perkara korupsi dana bansos Pemkot Bandung, Setyabudi memberikan vonis satu tahun terhadap tujuh terdakwa perkara bansos.

Vonis ini jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan tuntutan dari jaksa penuntut umum yang menuntut ketujuh terdakwa dengan hukuman penjara tiga dan empat tahun penjara.

Sumber: Antara
Disadur dari KOMPAS.COM

Selasa, 01 Januari 2013

SIROSIS HATI

Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang mengenai seluruh organ hati, ditandai dengan pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Keadaan tersebut terjadi karena infeksi akut dengan virus hepatitis dimana terjadi peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya banyak jaringan ikat dan regenerasi noduler dengan berbagai ukuran yang dibentuk oleh sel parenkim hati yang masih sehat. Akibatnya bentuk hati yang normal akan berubah disertai terjadinya penekanan pada pembuluh darah dan terganggunya aliran darah vena porta yang akhirnya menyebabkan hipertensi portal. Pada sirosis dini biasanya hati membesar, teraba kenyal, tepi tumpul, dan terasa nyeri bila ditekan.

Penyebab sirosis hati beragam. Selain disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B ataupun C, juga dapat diakibatkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan, berbagai macam penyakit metabolik, adanya gangguan imunologis, dan sebagainya. Di Indonesia, sirosis hati lebih sering dijumpai pada laki-laki daripada perempuan.

Keluhan yang timbul umumnya tergantung apakah sirosisnya masih dini atau sudah fase dekompensasi. Selain itu apakah timbul kegagalan fungsi hati akibat proses hepatitis kronik aktif atau telah terjadi hipertensi portal. Bila masih dalam fase kompensasi sempurna maka sirosis kadangkala ditemukan pada waktu orang melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh (general check-up) karena memang tidak ada keluhan sama sekali. Namun, bisa juga timbul keluhan yang tidak khas seperti merasa badan tidak sehat, kurang semangat untuk bekerja, rasa kembung, mual, mencret kadang sembelit, tidak selera makan, berat badan menurun, otot-otot melemah, dan rasa cepat lelah. Banyak atau sedikitnya keluhan yang timbul tergantung dari luasnya kerusakan parenkim hati. Bila timbul ikterus maka berhenti sedang  terjadi kerusakan sel hati. Namun, jika sudah masuk ke dalam fase dekompensasi maka gejala yang timbul bertambah dengan gejala dari kegagalan fungsi hati dan adanya hipertensi portal.

Kegagalan fungsi hati menimbulkan keluhan seperti rasa lemah, turunya barat badan, kembung, dan mual. Kulit tubuh di bagian  atas, muka, dan lengan atas akan bisa timbul bercak mirip laba-laba (*spider nevi). Telapak tangan bewarna merah (eritema palmaris), perut membuncit akibat penimbunan cairan secara abnormal di rongga perut (asites), rambut ketiak dan kemaluan yang jarang atau berkurang, buah zakar mengecil (atrofi testis), dan pembesaran payudara pada laki-laki. Bisa pula timbul hipoalbuminemia, pembengkakan pada tungkai bawah sekitar tulang (edema pretibial), dan gangguan pembekuan darah yang bermanifestasi sebagai peradangan gusi, mimisan, atau gangguan siklus haid. Kegagalan hati pada sirosis hati fase lanjut dapat menyebabkan gangguan kesadaran akibat encephalopathy hepatic atau koma hepatik.

Tekanan portal yang normal antara 5-10 mmHg. Pada hipertensi portal terjadi kenaikan tekanan dalam sistem portal yang lebih dari 15 mmHg dan bersifat menetap. Keadaan ini akan menyebabkan limpa membesar (splenomegali), pelebaran pembuluh darah kulit pada dinding perut disekitar pusar (caput medusae), pada dinding perut yang menandakan sudah terbentuknya sistem kolateral, wasir (hemoroid), dan penekanan pembuluh darah vena esofagus atau cardia (varices esofagus) yang dapat menimbulkan muntah darah (hematemesis), atau berak darah (melena). Kalau pendarahan yang keluar sangat banyak maka penderita bisa timbul syok (renjatan). Bila penyakit akan timbul asites, encephalopathy, dan perubahan ke arah kanker hati primer (hepatoma).

Diagnosa yang pasti ditegaskan secara mikroskopis dengan melakukan biopsi hati. Dengan pemeriksaan histipatologi dari sediaan jaringan hati dapat ditentukan keparahan dan kronisitas dari peradangan hatinya, mengetahui penyebab dari penyakit hati kronis, dan mendiagnosis apakah penyakitnya suatu keganasan ataukah hanya penyakit sistemik yang disertai pembesaran hati.

Pemeriksaan laboraturium pada sirosis hati meliputi hal-hal berikut:

  1. Kadar Hb yang rendah (anemia), jumlah sel darah putih menurun (leukopenia), dan trombositopenia.
  2. Kenaikan SGOT, SGPT dan gamma GT akibat kebocoran dari sel-sel yang rusak. Namun, tidak meningkat pada sirosis inaktif.
  3. Kadar albumin rendah. Terjadi bila kemampuan sel hati menurun.
  4. Kadar kolinesterase (CHE) yang menurun kalau terjadi kerusakan sel hati.
  5. Masa protrombin yang memanjang menandakan penurunan fungsi hati.
  6. Pada sirosis fase lanjut, glukosa darah yang tinggi menandakan ketidakmampuan sel hati membentuk glikogen.
  7. Pemeriksaan marker serologi petanda virus untuk menentukan penyebab sirosis hati seperti HBsAg, HBeAg, HBV-DNA, HCV-RNA, dan sebagainya.
  8. Pemeriksaan alfa feto protein (AFP). Bila ininya terus meninggi atau >500-1.000 berarti telah terjadi transformasi ke arah keganasan yaitu terjadinya kanker hati primer (hepatoma).
Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan antara lain ultrasonografi (USG), pemeriksaan radiologi dengan menelan bubur barium untuk melihat varises esofagus, pemeriksaan esofagoskopi untuk melihat besar dan panjang varises serta sumber pendarahan, pemeriksaan sidikan hati dengan penyuntikan zat kontras, CT scan, angografi, dan endoscopic retrograde chlangiopancreatography (ERCP).

Pengobatan tergantung dari derajat kegagalan hati dan hipertensi portal. Bila hati masih dapat mengkompensasi kerusakan yang terjadi maka penderita dianjurkan untuk mengontrol penyakitnya secara teratur, istirahat yang cukup, dan melakukan diet sehari-hari yang tinggi kalori dan protein disertai lemak secukupnya. Dalam hal ini bila timbul komplikasi maka hal-hal berikut harus diperhatikan.
  1. Pada ensefaopati pemasukan protein harus dikurangi. Lakukan koreksi faktor pencetus seperti pemberian kalium pada hipokalemia, pemberian antibiotik pada infeksi, dan lain-lain.
  2. Apabila timbul asites lanjut maka penderita perlu istirahat di tempat tidur. Konsumsi garam perlu dikurangi hingga kira-kira 0.5 g per hari dengan botol cairan yang masuk 1.5 1 per hari. Penderita diberi obat diureti distal yaitu Spronolakton 4×25 g per hari, yang dapat dinaikkan sampai dosis total 800 mg perhari. Bila perlu, penderita diberikan obat diuretik loop yaitu Furosemid dan dilakukan koreksi kadar albumin di dalam darah.
  3. Pada pendarahan varises esofagus penderita memerlukan perawatan di rumah sakit.
  4. Apabila timbul sindroma hepatorenal yaitu terjadinya gagal ginjal akut yang berjalan progresif pada penderita penyakit hati kronis dan umumnya disertai sirosis hati dengan asites maka perlu perawatan segera di rumah sakit. Keadaan ini ditandai dengan kadar urea yang tinggi di dalam darah (azotemia) dan air kencing yang keluar sangat sedikit (oliguria).

Baca juga:


TERAPI MAKANAN UNTUK PENDERITA HEPATITIS C

Saat terdiagnosa menderita penyakit Hepatitis C, bisa jadi kebanyakan orang akan langsung panic dan segera mencari pertolongan dokter. Tentu saja hal ingin sangat disarankan, karena semakin cepat disadari dan diketahui kondisinya, seorang pasien akan semakin memiliki beragam opsi untuk langkah penyembuhan Hepatitis C.
Obat-obatan memang penting dalam penyembuhan Hepatitis C. Meskipun demikian, jika Anda
mempercayai pengobatan tradisional, maka ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan selain obat, yakni pantangan dan yang harus dimakan.
Dalam pengobatan Cina (Traditional Chinese Medicine – TCM), menjaga makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut dan perut pasien Hepatitis C juga sama pentingnya dengan obat-obatan. Makanan yang sebaiknya dihindari adalah alkohol, kopi, dan jus jeruk. Di antara ketiga minuman tersebut, alkohol adalah yang paling terlarang, karena sedikit saja alkohol dapat mempercepat kerusakan hati para penderita Hepatitis C.
Sementara itu, daftar makanan yang harus dihindari cukup banyak. Di antaranya makanan-makanan berlemak dan gorengan, makanan yang mengandung banyak gula, gandum, domba, serta kacang. Tak hanya itu, bagi pasien yang menggemari masakan pedas tampaknya harus menahan diri karena makanan pedas ada dalam daftar makanan yang harus dihindari penderita Hepatitis C.
Menghindari makanan dan minuman tersebut diprediksi akan memperkuat kondisi tubuh para penderita, agar penyembuhan Hepatitis C dapat berhasil secara optimal.

Baca juga:

HEPATITIS C

Hati adalah satu dari sejumlah organ terpenting dalam tubuh manusia yang memiliki kurang lebih 500 fungsi vital untuk keberlangsungan proses metabolisme. Karenanya adalah tidak mungkin seorang manusia dapat mempertahankan kesehatannya tanpa keberadaan organ hati.
Beberapa fungsi diantaranya adalah :
  1. Mengubah racun, residu obat, alkohol dan bahan berbahaya yang diproduksi oleh tubuh menjadi unsur yang dapat diterima oleh organ lain untuk dikeluarkan melalui ginjal dan usus. Banyak jenis obat harus di cerna didalam hati sebelum berfungsi sempurna.
  2. Memecah sel darah merah yang sudah tua dan mengubah hemoglobin (substansi yang membawa oksigen di dalam sel darah merah) menjadi bile, untuk kemudian disalurkan kedalam kantung empedu untuk keperluan selanjutnya. Bila dibutuhkan, bile ini akan dikeluarkan melalui usus untuk membantu emulsi lipid serta menyerap vitamin yang dibutuhkan dari konsumsi makanan.
  3. Memproduksi, menyimpan dan mengedarkan glukosa untuk seluruh bagian tubuh. Disamping juga mengawasi kadar kolesterol dalam darah, mengolah dan memproduksinya sebanyak dibutuhkan.
  4. Mengolah protein, sebagaimana yang dibutuhkan untuk memproduksi kadar kekentalan darah, untuk mengirimkan zat gizi ke organ lainnya dan sebagian lagi berfungsi untuk memproduksi daya tahan tubuh atas infeksi.
Fungsi lainnya adalah :
  • Memproses karbohidrat, lemak, protein dan alkohol
Mencerna dan memproduksi bilirubin (dari sel darah merah), kolesterol, hormon dan obat.

Hepatitis C adalah salah satu tipe virus yang menyerang hati. Ketika virus ini berkembang biak, virus ini membunuh sel hati dan memancing sistem kekebalan tubuh untuk melakukan perlawanan. Reaksi serangan ini bisa berakibat fatal pada hati seperti terjadinya peradangan dan/ atau terbentuknya jaringan parut / fibrosis pada hati. Jika hal ini terus dibiarkan terjadi tanpa melakukan pengobatan dapat berakibat pada terjadinya kerusakan hati yang sangat serius seperti sirosis (pengerasan hati karena terbentuknya jaringan parut) atau kanker hati.

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus hepatitis C berlanjut menjadi hepatitis C yang kronis. Infeksi ini menjadi kronis (menahun) karena sistem kekebalan tubuh sudah tidak lagi bisa memerangi virus ini.
Anda mungkin berpikir kondisi seperti ini akan membuat Anda semakin merasakan sakit seiring berjalannya waktu. Tetapi perlu diketahui bahwa, pada sebagian besar orang, hepatitis C adalah asimtomatik yang artinya mereka tidak merasakan gejala apa–apa selama bertahun-tahun sejak terinfeksi hepatitis C. Tidak ada yang bisa memastikan apakah gejala-gejala ini akan timbul di waktu kemudian.
Tidak merasakan gejalanya bukan berarti virus hepatitis C tidak sedang merusak hati Anda. Virus ini tetap hidup di dalam tubuh Anda tanpa memberikan gejala yang pasti. Faktanya, banyak orang yang tidak merasakan gejalanya sampai kerusakan hati yang parah terjadi. Itulah mengapa amat penting melakukan tes dan berkonsultasi dengan dokter Anda mengenai pengobatan hepatitis C.

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). Virus Hepatitis C masuk ke sel hati, menggunakan mesin genetik dalam sel untuk menduplikasi virus Hepatitis C, kemudian menginfeksi banyak sel lainnya. 15% dari kasus infeksi Hepatitis C adalah akut, artinya secara otomatis tubuh membersihkannya dan tidak ada konsekwensinya. Sayangnya 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun. Dalam waktu tersebut, hati bisa rusak menjadi sirosis (pengerasan hati), stadium akhir penyakit hati dan kanker hati.

Diagnosa Hepatitis C
Diagnosa awal adalah melalui tes darah sederhana untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis C atau jumlah virus yang ada dalam jaringan tubuh. Jika virus terdeteksi dalam tubuh Anda ini berarti Anda memiliki hepatitis C. Kemudian dokter akan memeriksa keadaan kesehatan hati Anda.

Cara yang paling umum atau biasa digunakan untuk memeriksa masalah hati adalah melalui tes fungsi hati, suatu tes darah yang memeriksa zat-zat kimia dalam tubuh yang dihasilkan oleh hati dalam berkerja menjalankan fungsinya:
  • ALT (SGPT) – suatu enzim yang bila dalam keadaan normal berada di dalam sel hati dan di dalam darah. Ketika sel hati rusak, enzim ini merembes ke dalam aliran darah sehingga menyebabkan kadar ALT (SGPT) meningkat. Tes ALT (SGPT) yang hanya dilakukan sekali belum tentu bisa menunjukkan seberapa parah perusakan yang telah terjadi dan seringkali orang yang menderita hepatitis C kronis memiliki kadar ALT (SGPT) normal. Enzim hati lainnya yang biasanya diukur melalui tes darah ini adalah AST (aspartate aminotransferase / SGPT), GGT (gamma-glutamyl transferase), dan alkaline phosphatase.
  • Bilirubin -  suatu pigmen berwarna kuning yang disalurkan ke dalam hati ketika sel darah merah pecah. Jika hati tidak bekerja dengan baik maka kadar bilirubin dalam darah akan naik.
  • Albumin – adalah suatu protein yang dihasilkan oleh hati. Penurunan jumlah albumin dapat mencerminkan buruknya fungsi hati.
  • Prothrombin Time – Ketika mengalami kerusakan, hati akan gagal memproduksi zat pembeku darah dalam jumlah yang memadai. Tes ini mengukur kemampuan pembekuan darah. Pada gangguan fungsi hati Prothrombin Time (PT) memanjang.
  • Penghitungan darah lengkap – penghitungan darah lengkap dapat membantu mendeteksi kondisi umum/ keseluruhan hati.
Bila diperlukan dokter Anda juga mungkin akan melakukan biopsi hati yaitu suatu prosedur yang dilakukan dengan mengambil sepotong kecil jaringan hati dengan menggunakan jarum biopsi, yang kemudian dianalisis di bawah mikroskop oleh ahli patologi anatomi. Biopsi hati biasanya direkomendasikan untuk diagnosis kelainan hati atau untuk menentukan derajat beratnya kelainan hati.

Penyebab Hepatitis C
Hepatitis berarti pembengkakan pada hati. Banyak macam dari virus Hepatitis C. Dalam banyak kasus, virus yang masuk ke dalam tubuh, mulai hidup di dalam sel hati, mengganggu aktivitas normal dari sel tersebut, lalu menggunakan mesin genetik dalam sel untuk menduplikasi virus Hepatitis C kemudian menginfeksi sel lain yang sehat.

Jika anda penderita Hepatitis C, sangat penting untuk mengkonsumsi makanan sehat dan menghindari alkohol. Alkohol akan memperparah kerusakan hati anda, baik anda dalam pengobatan ataupun tidak.
Salah satu gejala umum dari Hepatitis C adalah kelelahan kronis. Kelelahan juga bisa sebagai efek samping pengobatan Hepatitis C. Rasa lelah akibat Hepatitis C dapat diatasi dengan istirahat cukup dan menjalankan olah raga yang rutin.
Virus Hepatitis C sangat pandai merubah dirinya dengan cepat. Sekarang ini ada sekurang-kurangnya enam tipe utama dari virus Hepatitis C (yang sering disebut genotipe) dan lebih dari 50 subtipenya.
Hal ini merupakan alasan mengapa tubuh tidak dapat melawan virus dengan efektif dan penelitian belum dapat membuat vaksin melawan virus Hepatitis C. Genotipe tidak menentukan seberapa parah dan seberapa cepat perkembangan penyakit Hepatitis C, akan tetapi genotipe tertentu mungkin tidak merespon sebaik yang lain dalam pengobatan.
Bagaimana Keluhan dan Gejalanya?
Penderita terinfeksi hepatitis C dari berbagai macam cara. Mereka bisa saja tidak merasakan gejalanya sama sekali. Faktanya, gejala pada hepatitis C yang kronis tidak tampak sampai kerusakan hati yang parah terjadi. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melakukan tes kesehatan hati Anda, misalnya memeriksa kadar ensim pada darah atau tes darah lainnya, USG hati, atau biopsy hati.
Gejala-gejala hepatitis bisa hilang timbul atau mungkin hanya bersifat temporer. Namun, proses kerusakan hati tetap saja terjadi, terlepas dari ada tidaknya gejala. Gejala yang berat bisa juga muncul tanpa terjadinya proses kerusakan hati yang permanen tetapi ini jarang.
Bila Anda mengalami salah satu atau lebih dari gejala-gejala di bawah, mungkin saja Anda terinfeksi virus hepatitis C. Sangat jarang orang yang mengidap infeksi virus hepatitis C mengalami semua gejala Hepatitis C.
Gejala biasanya terjadi pada lebih kurang 5% dari seluruh pengidap Hepatitis C dan gejala-gejala itu meliputi:
  • rasa letih,
  • demam,
  • menggigil
  • tidak nafsu makan
  • mual dan muntah
  • kuning
  • nyeri perut kanan atas
  • penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya
Bila Anda merasa yakin berisiko tertular Hepatitis C, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter Anda.
Ingat: Apa yang Anda rasakan tidak dapat menjadi ukuran terhadap seberapa parahnya kerusakan fisik yang Anda alami. Jika Anda menunggu sampai merasakan gejalanya sebelum melakukan pengobatan mungkin saja hati Anda sudah mengalami kerusakan parah.
Dalam beberapa kasus,Hepatitis C dapat menyebabkan peningkatan enzim tertentu pada hati, yang dapat dideteksi pada tes darah rutin. Walaupun demikian, beberapa penderita Hepatitis C kronis mengalami kadar enzim hati fluktuasi ataupun normal.
Meskipun demikian, sangat perlu untuk melakukan tes jika anda pikir anda memiliki resiko terjangkit Hepatitis C atau jika anda pernah berhubungan dengan orang atau benda yang terkontaminasi. Satu-satunya jalan untuk mengidentifikasi penyakit ini adalah dengan tes darah.
 
Penularan Hepatitis C
Virus hepatitis C adalah virus yang terkandung dalam darah, artinya virus ini menyebar/menular melalui darah dan produk-produk darah. Cara penularan umumnya meliputi:
  • Luka tusuk jarum suntik di kalangan tenaga kesehatan.
  • Transfusi darah sebelum pertengahan tahun 1992 (selepas tahun 1992, bank darah mulai melakukan penapisan secara ketat untuk Hepatitis C dengan menerapkan cara pemeriksaan yang efektif).
  • Pemakaian narkoba suntik (misalnya pemakaian jarum suntik yang sama secara bergantian).

Cara-cara penularan lainnya meliputi :
  • Akupunktur dan tindikan pada tubuh dengan menggunakan jarum yang tidak disterilisasi atau dibersihkan sebagaimana mestinya.
  • Tato dengan menggunakan jarum yang tidak disterilisasi atau tinta yang telah terkontaminasi.
  • Pemakaian barang-barang perawatan pribadi secara bergantian (misalnya pisau cukur, sikat gigi, gunting atau pengikir kuku) dan alat-alat rumah tangga lainnya yang telah terkena darah.
  • Pemakaian kokain hisap dengan menggunakan sedotan atau alat lain yang sama secara bergantian di antara pemakai. Pemakaian sedotan untuk menghisap kokain bisa menyebabkan kontak darah melalui luka atau goresan pada hidung.
  • Aktivitas seksual yang menyebabkan perdarahan atau kontak darah antara pasangan yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi (misalnya melalui luka yang terbuka).

Virus hepatitis C tidak menular melalui kontak biasa seperti berpelukan, bersin, batuk atau duduk berdekatan dengan pengidap Hepatitis C.
Hepatitis C jarang ditularkan lewat aktivitas seksual. Namun, ada kecenderungan bahwa mereka yang memiliki banyak pasangan seksual juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami infeksi virus hepatitis C.
Satu - satunya cara untuk melindungi diri Anda adalah dengan menghindari perilaku seks yang berisiko, seperti melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan atau dengan satu pasangan yang status kesehatannya tidak jelas.
Sekalipun jarang, hepatitis C bisa juga menular dari ibu kepada anaknya selama proses persalinan. Sebagian besar penelitian memperkirakan bahwa risiko penularan melalui cara ini meningkat hingga 8%. Kegiatan menyusui belum ditemukan terkait dengan penularan virus hepatitis C. 

Bila Anda atau pasangan Anda mengidap hepatitis C, dan Anda (bila Anda seorang isteri) atau isteri Anda (bila Anda seorang suami) tengah mengandung ataupun Anda dan pasangan tengah berencana untuk memiliki anak, sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter perihal tindakan pencegahan yang perlu dilakukan.
Seorang yang terinfeksi Hepatitis C dapat menularkan ke orang lain 2 minggu setelah terinfeksi pada dirinya.
Dengan mengetahui cara penularanya, maka kita dapat berusaha untuk dapat mencegah terpapar oleh penyakit Hepatitis C.

Konsekuensi Penderita Hepatitis C

Salah satu konsekuensi paling berat pada penderita Hepatitis C adalah kanker hati.
Sekitar 15 % pasien yang terinfeksi virus Hepatitis C dapat menghilangkan virus tersebut dari tubuhnya secara spontan tanpa menghadapi konskwensinya di kemudian hari. Hal tersebut disebut infeksi akut. Sayangnya, mayoritas penderita penyakit ini menjadi kronis. (suatu penyakit dikatakan kronis bila menetap lebih dari 6 bulan).
Hepatitis C kronis salah satu bentuk penyakit Hepatitis paling berbahaya dan dalam waktu lama dapat mengalami komplikasi, apalagi bila tidak diobati.
Penderita Hepatitis kronis beresiko menjadi penyakit hati tahap akhir dan kanker hati. Sedikit dari penderita Hepatitis kronis, hatinya menjadi rusak dan perlu dilakukan transplantasi hati. Kenyataannya, penyakit hati terutama Hepatitis C penyebab utama pada transplantasi hati sekarang ini.
Sekitar sepertiga kanker hati disebabkan oleh Hepatitis C. Hepatitis C yang menjadi kanker hati terus meningkat di seluruh dunia karena banyak orang terinfeksi Hepatitis C tiap tahunnya.

Walaupun Hepatitis C tidak menunjukkan gejala, kerusakan hati terus berlanjut dan menjadi parah seiring waktu.
Saat hati menjadi rusak (sebagai contoh, karena Hepatitis C) hati tersebut akan memperbaiki sendiri yang membentuk parut. Bentuk parut ini sering disebut fibrosis. Semakin banyak parut menunjukkan semakin parahnya penyakit. Sehingga, hati bisa menjadi sirosis (penuh dengan parut).
Struktur sel hati mulai pecah, sehingga hati tidak lagi berfungsi normal. Kerusakan hati yang disebabkan Hepatitis C biasanya terjadi secara bertahap selama 20 tahun, tetapi beberapa faktor dapat membuat perkembangan penyakit lebih cepat, seperti alkohol, jenis kelaminnya pria, umur dan infeksi HIV. Karena infeksi Hepatitis C dapat menyebabkan kerusakan hati tanpa gejala, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin dan bicarakan pilihan pengobatan dengan dokter anda. Penelitian menunjukkan pasien yang diobati sebelum hatinya rusak secara signifikan memiliki respon yang lebih baik terhadap pengobatan dibandingkan pada pasien yang menunda pengobatannya. 
 
Proses Kerusakan Hati
Hati yang normal halus dan kenyal bila disentuh. Ketika hati terinfeksi suatu penyakit (misalnya Hepatitis C), hati menjadi bengkak. Sel hati mulai mengeluarkan enzim alanin aminotransferase ke darah. Dengan keadaan ini dokter dapat memberitahu anda apakah hati sudah rusak atau belum. Bila konsentrasi enzim tersebut lebih tinggi dari normal, itu adalah tanda hati mulai rusak. Sewaktu penyakit hati berkembang, perubahan dan kerusakan hati meningkat.
Fibrosis.
Setelah membengkak, hati mencoba memperbaiki dengan membentuk bekasluk atau parut kecil. Parut ini disebut "fibrosis", yang membuat hati lebih sulit melakukan fungsinya. Sewaktu kerusakan berjalan, semakin banyak parut terbentuk dan mulai menyatu, dalam tahap selanjutnya disebut "sirosis".
Sirosis.
Kerusakan yang berulang, area besar hati yang rusak dapat menjadi permanen dan menjadi koreng. Darah tidak dapat mengalir dengan baik pada jaringan hati yang rusak. Hati mulai menciut dan menjadi keras. Penyakit Hepatitis C kronis biasanya dapat menyebabkan sirosis sama seperti kelebihan mengkonsumsi minuman beralkohol.

Fungsi hati rusak.
Sewaktu sirosis bertambah parah, hati tidak dapat menyaring kotoran, racun, dan obat yang ada dalam darah. Hati tidak lagi dapat memproduksi “clotting factor” untuk menghentikan pendarahan. Cairan tubuh terbentuk pada abdomen dan kaki, pendarahan pada usus sering terjadi, dan biasanya fungsi mental menjadi lambat. Pada titik ini, transplantasi hati adalah pilihan satu-satunya.

Kanker hati.
Kadang kala kerusakan sel hati diikuti dengan perubahan gen sel yang mana dapat menjadi kanker. Pasien Hepatitis C kronis memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita "hepatocellular carcinoma", suatu tipe tumor hati.

Pencegahan Kerusakan Hati
Sirosis dapat dihentikan dan kadang kala dapat dicegah. Untuk pasien Hepatitis C kronis, sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati dimana sirosi lebih buruk. Selain itu, jika anda penderita penyakit Hepatitis C hindari alkohol secara total. Juga jangan minum alkohol dengan acetaminophen (merupakan kandungan obat sakit kepala dan flu), karena bila dikonsumsi berbarengan dapat menyebabkan kondisi "hepatitis fulminant", yang dapat menyebabkan fungsi hati rusak total. 

Faktor Resiko Hepatitis C 
Karena Hepatitis C menular dari orang ke orang melalui kontak dengan darah yang terinfeksi virus Hepatitis C, aktivitas yang meningkatkan kontak dengan darah tersebut perlu dipertimbangkan sebagai faktor resiko.
Faktor resiko yang paling umum adalah pengguna obat bius suntik dan darah serta produk transfusi darah sebelum tahun 1992
Faktor resiko lain seperti tato dan tindik tubuh. Tinta atau jarum tato yang digunakan untuk membuat tato atau menindik dapat menjadi pembawa virus Hepatitis C dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya, jika pelaku tidak melakukan sterilasasi pada perlengkapannya.
Faktor resiko lainnya adalah luka tertusuk jarum, terutama pada pekerja kesehatan, hemodialisis dan transplantasi organ sebelum tahun 1992.
Luka karena jarum suntik, yang seringkali terjadi pada petugas kesehatan, dapat menjadi alat penularan virus Hepatitis C. Probabilitas penularan virus Hepatitis C melalui jarum suntik lebih besar dibanding dengan virus HIV.
Sekarang ini, pada penderita HIV ada protokol standar dalam penanganan jarum suntik untuk mengurangi resiko tertular HIV atau AIDS. Sayangnya, tidak ada protokol yang sama untuk penanganan pada penderita Hepatitis C untuk menghindari penularan melalui jarum suntik.

Pengguna Obat Bius Suntik
Dua pertiga pengguna obat bius suntik mengidap Hepatitis C.
Orang yang menggunakan obat bius suntik, walaupun sekali, memiliki resiko tinggi tertular Hepatitis C. Sekarang ini, resiko terinfeksi virus Hepatitis C melalui obat bius suntik lebih tinggi dibandingkan terinfeksi HIV sekitar 60% hingga 80% yang terinfeksi Hepatitis C sedangkan yang terinfeksi HIV sekitar 30%.
Virus Hepatitis C mudah sekali menyebar melalui berbagi jarum, jarum suntik dan perlengkapan lain pengguna obat bius suntik.

Hubungan Seksual
Meskipun Hepatitis tidak mudah menular melalui hubungan seksual, prilaku seksual yang beresiko, terutama yang memilki pasangan seksual lebih dari satu, menjadi pemicu meningkatnya resiko terinfeksi virus Hepatitis C.
Sekitar 15 % infeksi Hepatitis C ditularkan melalui hubungan seksual. Penularan melalui hubungan seksual pada Hepatitis C tidak setinggi pada Hepatitis B. Walaupun demikian, prilaku seks yang beresiko tinggi berhubungan dengan peningkatan resiko tertular Hepatitis C. Faktor resiko dari penularan Hepatitis C melalui hubungan seksual meliputi
  • Memiliki lebih dari satu pasangan
  • Pengguna jasa PSK
  • Luka karena seks (kurangnya pelicin pada vagina dapat meningkatkan resiko penularan melalui darah)
  • Melakukan hubungan seksual sewaktu menstruasi.
Pada pasangan yang menikah, resiko penularan meningkat sejalan dengan lamanya perkawinan. Hal ini berkaitan dengan hubungan seksual dan berbagi perlengkapan (seperti sikat gigi, silet cukur, gunting kuku dan sebagainya).
Jika anda memiliki hubungan seksual dengan orang yang memiliki faktor resiko terinfeksi Hepatitis C, anda sebaiknya menjalankan tes untuk Hepatitis C juga.


Baca juga:
Daftar Pustaka: